oleh : Antonetta Maryanti
Ada seorang kerabat pernah kuliah di salatiga terus di DO, transfer ke kampung kami di DO juga karena bermasalah dengan dosennya. sang dosen tidak terima dikoreksi sang mahasiswa, dan merasa dipermalukan dihadapan mata mahasiswa yang lain. Waktu itu pak dosen memberikan satu soal beserta penyelesaiannya untuk dicatat bahan belajar dirumah (mahasiswa bukan siswa, masak masih didikte sih pak?), nah kerabatku mencari penyelesaiannya sendiri di tempat duduknya. Dia menunjuk jarinya, ” Pak, hasilnya salah pak!” dia diminta mengerjakannya di depan kelas, sang dosen memperhatikan dan mengatakan ah iya jawaban ini yang benar. Spontan kerabatku senyum-senyum kecil, sang dosen merasa tersinggung dan mengusirnya keluar dari kelas. Setelah di pecat dari kampus karena menghimpun mahasiswa untuk melakukan demo terhadap universitas, dia sekarang mengelola sebuah tempat kursus, dan saya tercengang melihat apa yang dia lakukan, otaknya tidak mengenal kata batas. Dia sudah membantu banyak sekali mahasiswa mengerjakan skripsinya, dari bidang ekonomi, mipa dan tantangan terbarunya adalah mengerjakan skripsi tentang pastoral.
Dalam tulisan saya berjudul I love reading, bahwa ada beberapa orang yang tidak perlu kuliah untuk bisa menguasai sesuatu. Saya tidak sempat bertanya di jurusan apa kerabat saya kuliah dulu? Pernah ada seorang mahasiswa S2 di salah satu universitas di Malang atau Surabaya yang membayarnya untuk mengerjakan skripsinya. Dan dia mengerjakan dengan sangat baik, dan pada saat hendak kembali untuk menghadapi ujian thesisnya dia meminta kerabat saya untuk juga ikut ke sana, semua biaya ditanggungnya. “Bagaimana nanti kalo saya ujian?”. tanya sang mahasiswa. Ho ho ho… .
Sejenak aku berpikir : akan jadi manusia seperti apa manusia yang dibimbingnya nanti, kalau dia adalah seorang dosen?. Dosen yang datang ke kelas tanpa persiapan alih-alih mengajarkan tentang Bandar udara tetapi foto yang diperlihatkan kain tenun, pisang beranga, danau tiga warna potensi kota kelahiranku. Beberapa kali mengajukan kritik ke dosen lain. Mulai masuk ke topic Bandar udara, apa yang dia lakukan hanya membaca lurus-lurus yang ada dalam slide. Lho penjelasannya mana? Aduh pak saya juga bisa jadi dosen, kalau Cuma membaca saja. Dan satu kata saya : M E N G A N T U K!!!. Kuliah jam 8 pagi setelah menunggu 1 jam, baru sang maha dosen datang. Capek deh…
Dia bangga karena jumlah mahasiswa yang diasuhnya selalu diatas paduan dua angka yaitu lima dan nol atau limapuluh. Katanya dosen lain bakalan pingsan kalau semua yang ada dalam kelas ini dia kasih dengan nilai A. Alasannya mahasiswa sudah bayar mahal-mahal, orangtua di kampung tanam ubi kayu, jual kelapa, jual pisang, kain tenun kenapa dosen harus tekan nilai mahasiswa. Lho pak ini lagi kuliah atau kampanye? Atau cari perhatian, dukungan simpati? Aku semakin muak mendengar bualan, kapan dosen ini membagi ilmunya tentang Bandar udara, mana ilmu S1 dan ilmu S2mu yang sudah dipelajari? Ayo cepat bagikan ke kami.
Dan setelah 3 minggu berjalan, yang harusnya dengan durasi dua jam, tetapi menjadi satu jam ilmu yang aku dapatkan hanyalah NOL BESAR tentang Bandar Udara. Malah aku mendapat manfaatnya, dapat inspirasi mau menulis tentang potensi tentang kampung tercintaku, danau kelimutu, pisang beranga, kain tenun.
Satu lagi yang tidak aku suka, pak sebagai dosen jangan malah jadi provokator bagi mahasiswa. ada alas an buat dosen lain tidak memberikan nilai A pada mahasiswa. Kalau mahasiswa senin kamis masuknya, ngerjain tugas juga semaunya, ujian juga gak ada isinya apa harus dikasih nilai A? Iya ujian mata kuliah asuhan bapak memang bisa dikerjakan dengan baik oleh mahasiswa, ya iya ujiannya teori open book lagi. Jawaban no 1 di hal 19 alinea ke3, jawaban no 2 hal 20, no 3 hal 78, hohoho dengan selembar kertas kecil yah jelas satu kelas nilainya AJ.
Kalo caranya seperti ini lebih baik pas ujian saja aku datang, copy flash materi kuliahnya dan belajar sendiri di rumah. Untuk lebih memperdalam ilmunya, aku bisa mencari di Wikipedia atau bertanya pada om GOOGLEku tercinta. Sayangnya kehadiran juga berpengaruh, yah ngantuk juga tak apa asal tetap dalam kelas.
Pak dosen tolong kalau mau mengajar dipersiapkan dong bahannya. Biar saya dan juga mungkin beberapa teman lain tidak M E N G A N T U K. Ini kan mata kuliah Bandar Udara, bukan les mendongeng. Kami membayar untuk mendapatkan ilmu bukan untuk mendengar dongeng sebelum tidur.
Semoga pertemuan minggu depan beliau bisa berubah, jika tidak oh Apa Kata Dunia kecil atau Kampungnya dan Mahasiswanya? J………..
Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2010/03/16/pak-dosen-aku-m-e-n-g-a-n-t-u-k/
Maret 16, 2010 pukul 5:10 am
Semoga dosen tersebut berubah.
Kompak aja satu kelas, ambil sikap biar tu dosen tau kalo dia keliru